Selasa, 15 November 2011

Perbandingan Model Pembelajaran Kontekstual Dengan Model Pembelajaran Tradisional/Konvensional

Oleh
Nama  : Ignasius Bagus Asmarianto
NIM   : 09 313 151

Pembelajaran konvensional yang dimaksud secara umum adalah pembelajaran dengan menggunakan metode yang biasa dilakukan oleh guru yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal kemudian pemberian tugas. Ceramah merupakan salah satu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi searah dari pembaca kepada pendengar. Penceramah mendominasi seluruh kegiatan, sedang pendengar hanya memperhatikan dan membuat catatan seperlunya. Menurut para ahli mengenai devinisi model pembelajaran konvensional yaitu :
1)   Roestiyah N.K. (1998)
Pembelajaran konvensional adalah cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah Guruan ialah cara mengajar dengan ceramah.
2)   Djamarah (1996)
metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran.
3)   Freire (1999)
Istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu penyelenggaraan guruan ber-“gaya bank” (banking concept of education). Penyelenggaraan guruan hanya dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh siswa, yang wajib diingat dan dihafal.
4)   Burrowes (2003)
Menurut Burrowes pembelajaran konvensional lebih menekankan pada resitasi konten, tanpa memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata.

 Sedangkan   Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok secara keseluruhan. Karakteristik model TPS siswa dibimbing secara mandiri, berpasangan, dan saling berbagi untuk menyelesaikan permasalahan.

ASPEK
Model TPS
Konvensional
1.   Sintaks
1) Guru menyampaikan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
5) kesimpulan
a.    [1]Guru memberikan materi dan menjelaskanya dengan metode ceramah
b.   Kegiatan selanjutnya guru memberikan contoh soal dan penyelesaiannya
c.    guru memberi soal-soal latihan, dan siswa disuruh mengerjakannya.


2.   Situasi siswa dalam keadaan belajar di dalam kelas
a.    kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
b.   kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.
Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru, dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan guru, dan kurang sekali mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat.
3.   Kelemahan  model pembelajaran
Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengatur cara berpikir sistematik
2. lebih sedikit ide yang masuk
3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan  dimonitor.

  1. pelajaran berjalan membosankan, peserta didik hanya aktif membuat catatan saja.
  2. Kepadatan konsep-konsep yang diajarkan dapat berakibat peserta didik tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
  3. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan.
  4. Ceramah menyebabkan belajar peserta didik menjadi benar menghafal yang tidak menimbulkan pengertian.

4.   Kelebihan model pembelajaran
a)    [2]Meningkatkan kemandirian siswa
b)    Meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya.
c)    Membentuk kelompoknya lebih mudah dan lebih cepat
d)    Melatih kecepatan berpikir siswa


Kelebihan dari pembelajaran konvensional adalah peserta didik lebih memperhatikan guru dan pandangan peserta didik hanya tertuju pada guru.
5.   Karakteristik
a)    [3]Interaksi siswa yang berkelanjutan atau sosial (tingkat aktivitas siswa)
b)   Akuntabilitas individu (tingkat kepercayaan diri dan harga diri)
c)    Saling ketergantungan yang positif
d)     Partisipasi yang setara

1)   pembelajaran berpusat pada guru
2)   terjadi passive learning
3)    interaksi di antara siswa kurang
4)    tidak ada kelompok-kelompok kooperatif
5)    penilaian bersifat sporadic
6)    lebih mengutamakan hafalan
7)    sumber belajar banyak berupa informasi verbal yang diperoleh dari buku
8)   mengutamakan hasil daripada proses.
6.   Informasi
siswa dapat berkomunikasi secara langsung oleh individu lain yang dapat saling memberi informasi dan bertukar pikiran serta mampu berlatih untuk mempertahankan pendapatnya jika pendapat itu layak untuk dipertahankan.
siswa hanya menerima saja apa-apa yang disampaikan oleh guru, begitupun aktivitas siswa untuk menyampaikan pendapat sangat kurang, sehingga siswa menjadi pasif dalam belajar, dan belajar siswa kurang bermakna karena lebih banyak hapalan.
7.   Peran Guru
Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar
Proses ini lebih jauh akan berimplikasi pada terjadinya hubungan yang bersifat antagonisme di antara guru dan siswa. Guru sebagai subjek yang aktif dan siswa sebagai objek yang pasif dan diperlakukan tidak menjadi bagian dari realita dunia yang diajarkan kepada mereka. Guru sebagai center pada proses belajar.
8.   Aktivitas siswa didalam kelas
Siswa berdiskusi, berfikir, membaca, mencatat, mendengarkan dan berbagi untuk memperoleh informasi
Siswa hanya mendengarkan, membaca, dan mencatat untuk memperoleh informasi.



[1] Menurut Ruseffendi (1991)
[2] Menurut Lie (2002)
[3] Kagan dalam Trianto, 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar